Entri Populer

Sabtu, 07 April 2012

Jilbab Berenda Biru, Tempatku Bersembunyi


Sebuah kain berwarna putih. Ukurannya kira-kira sekitar satu meter kurang tiap sisinya. Dengan berhias renda ungu yang membingkai tiap pinggirnya. Halus, terbuat dari sutera. Dari jahitan tangan yang halus pula, ibuku. Adalah hadiah ulang tahunku yang ke lima belas.
Ibu selalu bilang, “ Nana cantik kalo berjilbab, coba jilbabnya dipakai terus, Nana pasti keliatan cantik terus. Nanti juga Nana jadi anak solehah kalau sudah besar kalau istiqomah pakai jilbabnya.” Ah kata-kata itu tak pernah membekas di hatiku. Aku lebih senang dengan gaya tomboyku. Celana jeans selutut, kaos kedodoran yang kemudian lengannya ku lipat keatas, tak lupa topi yang melengkapi aksesoris kepalaku. Rambut panjangku tak pernah aku gerai layaknya gadis-gadis di desaku. Selalu ku ikat dan ku sembunyikan rambutku dalam topi. Memang aku sekolah di sebuah sekolah yang mewajibkan untuk berjilbab bagi siswi-siswinya. Namun, setelah jam sekolah selesai aku kembali meletakkan kerudungku, dan kembali dengan gaya tomboy ala gue. Begitu hingga tamat SMP.
Kemudian aku melanjutkan studi ke sebuah sekolah SMA ternama. Disana aku ingin berekspresi semauku. Menunjukkan bahwa inilah aku si tomboy preman kampung. Namun nasib membawaku ke dalam dunia yang sangat tidak aku harapkan. Orangtuaku membawaku ke dalam sebuah dunia pesantren. Pernah aku kabur dari pesantren itu. Namun, akhirnya aku pun tertangkap oleh keamanan pesantren. Sungguh sangat berbeda jauh dengan hobiku selama ini. Jika aku menghabiskan waktu luangku di cangkruk yang kemudian memetik gitar, tapi aku harus merubahnya menjadi membaca kitab dalam tiap waktu luang. Jika aku terbiasa tak berjilbab di depan laki-laki di luar jam sekolah kali ini aku harus mengenakan jilbab selama bersama bukan mahram. Hal yang amat sulit ku lalui. Selalu aku mendapat amukan dari keamanan pesantren karena tidak mengenakan jilbab saat keluar, juga pengasuh pesantren yang terkenal amat galak itu bosan memarahiku karena tiap kali jam kajian kitab aku tertidur. Skors, ta’zir, dan hukuman lain tak meluluhkanku untuk bisa menjadi santri yang taat. Aku selalu seenak udelku dalam bertindak. Entah mengapa pengasuh pesantren tidak mengembalikanku kepada orangtuaku. Padahal aku sangat berharap itu agar aku bisa bersekolah dengan mengendarai motor tiap hari.
Suatu hari, pengasuh pesantren memanggilku. Aku di persilahkan untuk pulang. Hatiku sangat gembira sekali karena akhirnya aku dipulangkan juga. Dengan diantar beberapa santri senior aku pulang. Betapa terkejut nya saat aku pulang memergoki warga sedang hiruk pikuk mengerumuni rumahku. Ternyata ibuku tercinta dipanggil oleh yang maha kuasa.
Setelah  kematian ibuku aku kembali diantar ayah ke pesantren. Pagi itu pak Yai membaca kitab Riyadhus Solihin. Entah apa yang membuatku tergerak untuk benar-benar menyimak bacaan pak Yai. Sebuah hadits yang sekali kudengar langsung membekas dalam hatiku. Dalam hadits itu menjelaskan bahwa salah satu wanita yang di azab di neraka dengan di gantung dan keluar uap mendidih dari kepalanya adalah wanita yang tak mau menutup auratnya dari selain mahramnya. Sontak jantungku berdegup kencang. Rasa takut kian menggebu. Aku memutuskan untuk menjaga auratku. Sejak saat itu perasaan ku dihantui rasa bersalah. Tak mau mendengarkan nasehat ibu dari dulu. Dan aku takut jika aku tak mendengarkan kata-kata ibu termasuk suatu bentuk kedurhakaanku pada ibu. Astaghfirullah... kenapa baru aku sadari bahwa dengan berjilbab aku terlihat lebih anggun. Dengan berjilbab rambutku sehat, tak bercabang dan merah akibat debu dan sinar matahari, tak perlu creambath tiap tiga hari sekali yang menghabiskan duit. Dengan jilbab pula wanita lebih terhornat, menghindarkan nafsu laki-laki bejat yang terpancing oleh anggota tubuh yang menggugah birahi. Aku berjanji, tak akan lagi melepas jilbabku. Kecuali di depan mahramku. Tuhan, ampuni aku. Ibu, maafkan aku tak mendengarkan nasehatmu. Jilbab adalah tempat persembunyian yang paling aman. Bersembunyi dari sengatan matahari, bersembunyi dari debu, bersembunyi dari nafsu jahat lelaki, bersembunyi dari melakukan hal-hal buruk. Ya, aku aman dengan berjilbab. Apa lagi jilbab berenda biru, hadiah dari ibu. Adalah tempat persembunyianku saat hatiku gundah gulana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar