Entri Populer

Kamis, 24 November 2011

oooohh tidaaaaaaaaaaaakkk

hahaha hihihi huhuhu hehehe hohoho...
wah, pasti pada mengira kalau aku setres. Bukan, tapi apa ya? pengen ketawa ngakak aja. Heeemmm ada apa gerangan yang membuatku ngakak kayak gitu? tau gak sih? aku kan ikut kontes blogging yang diadain kartunet.com itu? ya iseng-iseng aja aku posting artikel bikinanku. Eh, ternyata yang ngikut kontes ini bukan orang gemen-gemen euy. Dari sekian peserta cuma aku yang anak ingusan.huhu apa kata kontestan yang lain yaa? hahaha bocah ingusan pake ikut kontes segala. udah gitu artikelnya gak menarik lagi.huuu
Semua kontestan keren euy, artikelnya bagus, udah gitu udah pada jago blogging semua. sedangkan aku kan baru belajar, bikin blog juga baru saja. followernya aja gak sebanyak mereka. oh, minder banget deh. andai bisa ku hapus, eits tapi jangan ding biar aja jadi pajangan di blog ku. masalah kalah mah udah keliatan.hahaha dasar bocah ingusan nekat aku ini. gak ngaca dulu sih! bayangkan kontestan itu udah pada senior bo! aku aja kuliah belom kelar. au ahhh...
yang pasti aku malu.oooohhh tidaaaaaaaaaaakk!!!!!!!!!!!!

Selasa, 15 November 2011

Disabilitas dan Pandangan Masyarakat



Tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunadaksa mereka yang menyandang gelar “kaum disabilitas” adalah seseorang yang memiliki keterbatasan fisik seperti lazimnya manusia lain. Seluruh anggota badannya memang lengkap, mempunyai mata, telinga, mulut, dan anggota badan lainnya tapi tak berfungsi sebagaimana mestinya. Bagaimana mereka melakukan aktivitas sehari-hari sedangkan mereka dalam keadaan seperti itu? Apakah mereka hanya disuruh berpangku tangan dan segala aktivitas dibantu orang lain? Tidak. Mereka tetap melakukan segala sesuatu dengan sendirinya, seperti halnya kita manusia normal. Dan mereka tidak melakukan sesuatu diluar kemampuan mereka atau jika ada yang bersedia membantunya. Tuhan memang adil, ia menciptakan mereka dalam keadaan fisik yang tak sempurna . Tapi tuhan juga memberi mereka bekal suatu keahlian tertentu yang mungkin tak dimiliki manusia normal. Kita ambil saja contoh pijat tunanetra. Mengapa  orang buta yang harus memijat padahal ia tak dapat melihat bagian mana yang sakit? Sedangkan kita manusia normal yang mampu melihat bagian yang sakit itu tak bisa memijat? Mungkin bisa saja asal memijat, tapi akhirnya bukan sembuh malah tambah parah. Nah, itulah contoh kecil bahwa dibalik kedisabilitasanya ia memiliki sebuah kelebihan. Atau contoh lain misalnya mata kita dibungkam, kemudian kita disuruh untuk berjalan. Sudah pasti kita akan menabrak-nabrak sesuatu. Sedangkan mereka tunanetra asli mampu berjalan dengan bekal tongkat saja. Ada lho tetangga saya yang buta. Siapa yang sangka kalau ia buta? Ia begitu pandai menumbuk dengan menggunakan alu* dan lumpang (lesung) tanpa meleset. Ia juga menimba air di sumur kemudian memasukkan air ke dalam tempayan tanpa tumpah. Ya kalau pun tumpah sedikit wajarlah.
Coba mari kita pejamkan mata sejenak. Apa yang kita lihat? Tak ada. Hanya gelap. Bayangkan andai kita termasuk tunanetra, kita tidak bisa melihat segala keindahan yang ada di sekitar kita. Hanya mendengar sesuatu yang disebut anu tapi bagaimana bentuk dan warnanya kita tak tahu. Menderita bukan? Apa lagi jika harus dihina dan dilecehkan, tidakkah itu hanya menambah penderitaan mereka saja? Jika kita ditanya “maukah anda buta? Atau tuli? Atau bisu?” tentu tak ada yang mau. Nah, makanya itu jangan pernah kita memandang mereka dengan mata sebelah karena keterbatasan mereka. Justru mungkin mereka lebih baik dari kita dari sisi yang lain. Dan sadarkah kita mengapa tuhan menciptakan makhluknya berbagai macam bentuk? Ada yang normal, cacat dan sebagainya. Itu adalah tanda kebesaranNya agar kita mampu berfikir atas nikmat dan karunia yang telah Ia berikan pada kita. karena kita manusia adalah makhluk yang diberi kelebihan akal untuk membedakan antara hewan dan tumbuhan dan makhluk yang lain. Bukankah begitu?
Selama ini memang mereka dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat. Karena kekuranganya ia dihina, dilecehkan.  Tak diberi hak sebagaimana mestinya. Padahal mereka juga manusia yang berperasaan sama seperti kita. Mereka  juga merasakan sakit hati ketika dihina dan dilecehkan. Kayaknya kurang pas deh kalau mereka harus dikelompokkan dalam dunia khusus yang sejenis, maksudnya tidak dibiarkan saja berkecimpung bersama kita yang normal agar ia mengerti dan paham segala lekuk kehidupan. Sebagaimana adanya sekolah khusus bagi penyandang disabilitas atau yang biasa disebut SLB (Sekolah Luar Biasa) yang justru memisahkan antara kaum normal dan kaum disabilitas. Sehingga bisa memperkuat anggapan bahwa mereka tak layak bersosialisasi dengan kaum normal. Ya, memang betul jika mereka kita ikutkan sebagaimana kita pastinya akan tertinggal. Namun, alangkah baiknya jika dalam suatu sekolah misalnya ada kelas khusus akan tetapi saat di luar kegiatan belajar bisa berinteraksi dengan kita-kita yang normal. Waktu istirahat adalah saat yang tepat untuk berinteraksi, bermain, bercanda. Dengan seperti itu bisa tampak kesamaan derajat antara kaum disabilitas dan kaum normal. Jika di urutkan dalam kasta kaum disabilitas menempati urutan terbawah di mata masyarakat. Coba fikirkan! Mengapa kaum normal ada berbagai perlombaan yang kemudian bagi pemenangnya diberi penghargaan sedemikian rupa? Sedangkan bagi kaum disabilitas tak ada kegiatan semacam itu? Padahal mereka juga memiliki potensi. Semakin jelas bahwa memang kaum disabilitas tersingkirkan keberadaanya. Ada tuh ahli ilmu dari kalangan muslim yang terkenal dengan sebutan “Abdullah Bin Abdul Aziz Bin Baz” adalah seorang tunanetra. Salah satu bukti bahwa dibalik kekurangannya terdapat kelabihan yang sangat luar biasa. Wah, mungkin kehidupan ini akan terasa indah jika hukum persamaan hak dan sikap kepedulian tertanam pada hati masing-masing individu.bukankah dengan membantu orang lain hati kita merasa tentram?  Kaum disabilitas juga manusia. Memiliki rasa, cipta, dan karya. Mereka juga bisa membantu kita saat kita membutuhkan. Jangan mentang-mentang kita berfisik sempurna berarti tidak membutuhkan uluran kaum disabilitas. Kita ini adalah makhluk sosial yang tak bisa hidup sendirian. Sebagaimana yang dipaparkan oleh ilmuwan terkenal Aristoteles tentang teorinya “zoon politicon” betul gak?
Andai mereka bisa bersatu padu menindak lanjuti ketersisihan mereka di mata masyarakat, mungkin mereka akan membuat sebuah proklamasi kemerdekaan hak. Kami para kaum disabilitas dengan ini menyatakan kemerdekaan kami, hal-hal yang mengenai penghinaan terhadap kami akan diurus oleh pihak yang berwajib dan berharap bisa diselesaikan dengan tempo sesingkat-singkatnya.  Ah, tapi mengharap uluran tangan pemerintah sepertinya bagai menunggu hujan di musim kemarau. Dari kitalah yang harus memulai mengulurkan pertolongan pada mereka.
Dan dengan ini kami dari kaum normal maupun kaum disabilitas berharap agar kartunet.com merupakan sebuah wadah yang menampung /merefleksikan kehidupan inklusif yang di dalamnya tiada perbedaan antara satu sama lain, disabilitas ataupun normal, saling bahu membahu dan berbagi agar tercipta hubungan yang harmonis dalam kehidupan bermasyarakat. Meskipun lewat dunia maya, tapi mari kita rasakan keberadaanya. Kartunet.com adalah sarana penyalur isnspirasi kita semua. Jadikan kartunet.com sebuah taman yang indah berisi bunga-bunga pikiran setiap kepala, karya yang tercipta dari setiap insan disabilitas maupun normal, berhiaskan telaga cinta sesama agar tercipta angin bahu membahu yang datang menerpa jiwa-jiwa yang kurang sempurna fisiknya. Sehingga tercipta kehidupan bermasyarakat yang inklusif.
Wahai jiwa-jiwa muda bangkitlah! Mari kita melangkah bersama. Belajar dan berkarya untuk negeri kita tercinta. Dengan menerapkan prinsip “bhineka tunggal ika” dan saling merasa peduli terhadap yang lain. Camkanlah kata-kata “sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain.” Karena kita berbangsa satu bangsa indonesia, berbahasa satu bahasa indonesia, dan bertanah air satu tanah air indonesia.

Rabu, 02 November 2011

Manusia Setengah Wali


Seorang lelaki tua umurnya sekitar tujuh puluhan. Badanya kurus, dibungkus kulitnya yang berwarna cokelat tua, bahkan nyaris hitam akibat sengatan matahari dan keriput. Wajahnya nampak lebih bercahaya walau bukan berwarna putih, pelipisnya menonjol ke depan, matanya masih hitam pekat belum menunjukkan mata tua yang rabun. Aku sering melihatnya di masjid kota. Setiap hari saat aku pulang sekolah sebelum menunggu angkutan umum selalu aku sempatkan duduk di teras masjid untuk berteduh dari hawa panas yang menyengat. Disana aku melihat kakek tua itu mendekati tempat-tempat sampah, mencari rezki dari barang sisa. Tak seorang pun yang singgah di masjid itu menghiraukanya, namun hatiku sungguh berbeda. Kala aku tak melihatnya barang sehari saja aku bertanya-tanya dalam hati, “dimana kakek tua yang biasanya ku lihat itu?”.
Hari berlalu seperti biasanya aku sedang duduk di teras masjid. Kali ini kakek itu nampaknya sedang tidak sibuk. Ia bersandar di salah satu tiang masjid, matanya terpejam. Barang kali ia kecapekan memulung. Aku berjalan perlahan mendekati kakek tua itu. Ku langkahkan kaki ku sepelan mungkin agar ia tidak terbangun. Saat aku sampai di dekatnya, aku sangat kaget karena tiba-tiba terjaga dan malah menyunggingkan senyum padaku. Aku  membalas dengan senyuman yang senada. Aku duduk di sampingnya, sambil memperkenalkan diri. Kakek itu pun menyambutku dengan ramah. Kemudian kita berbincang-bincang hingga adzan asar berkumandang. Seusai jama’ah asar aku kembali duduk di tempat yang tadi aku berbincang dengan kakek tua itu. Tapi kakek tua sudah tak disana lagi. Aku lupa menanyakan nama kakek itu, barang kali aku bertemu denganya lain waktu aku ingin menyapanya. Ku tanyakan nama kakek tua itu pada petugas kebersihan masjid yang sedang mengepel masjid saat itu. Tapi ia Cuma menggelengkan kepala.
Sekarang di sekolahku di adakan pelajaran tambahan hingga jam dua baru pulang. Setiap kali aku mampir di masjid itu, tak lagi tampak kakek tua yang selalu berada dalam ingatanku. Hampir satu bulan ini ia tak muncul dalam pandangan mataku. Mungkinkah Tuhan telah memanggilnya? Jika ya maka saat itulah momen pertama dan terakhirku bisa berbincang denganya. Sayang, mengapa aku bisa lupa bertanya tentang namanya. Ia hanya menyebutkan desa dimana ia dan keluarganya tinggal. Selebihnya ia memberi petuah kepadaku agar aku bersekolah sungguh-sungguh kelak akan menjadi pemuda yang berguna bagi bangsa dan agama. Ia juga berpesan agar aku selalu shalat tepat waktu dan melanggengkan wudlu tiap kali batal. Aku yakin ia bukan sembarang manusia. Cara ia bertutur sangat sopan dan mendalam. Membekas dalam hati. Tampaknya ia tidak pernah memiliki kegundahan dalam hatinya dan mungkin tak memiliki  beban hidup jika dilihat dari wajahnya yang bersahaja dan penuh rona ketenangan itu. Suatu hari saaat aku pulang les di bonceng temanku aku melihatnya sekilas di jalan persawahan. Mengayuh sepeda tuanya yang dibonceng dua keranjang kanan dan kiri berisi barang rongsok. Meski berat ia tetap memacu pedal sepedanya dengan semangat. Sesekali ia berhenti di bawah sebuah pohon. Beristirahat sejenak, mengusap peluh dan mengipas-ngipaskan topi bambunya ke badannya.  Jika bukan karena terburu-buru mungkin aku sudah mengajak temanku untuk membuntuti kakek tua itu sampai rumahnya. Selanjutnya ketika aku sedang berjalan-jalan sore melewati jalan persawahan aku melihatnya lagi. Kali ini ia tidak mengayuh sepeda dengan membawa barang rongsok lagi. Tapi di tangan kanannya ia membawa parang dan tangan kirinya menikam rumput. Disampingnya ada karung yang berisi rumput pula. Lagi-lagi aku kehilangan kesempatan untuk menghampirinya.
Pagi itu sekolahku libur. Kala aku sedang asyik bermain dengan adikku tiba-tiba tetangga samping rumahku ~ panggil saja pak Syakir ~ penyakitnya kambuh. Orang-orang berduyun-duyun menengoknya. Konon pak Syakir kena penyakit santet turunan dari buyutnya. Sudah beberapa dokter dan tabib, bahkan orang pintar di datangkan tapi tak kunjung sembuh jua. Jika malam tiba, teriak kesakitan membumbung di atas awan hingga terdengar sampai jarak satu kiloan. Entah sakit apa pak Syakir selalu memegang perutnya yang semakin hari semakin membuncit itu. Seperti hampir meletus dan berisi berliter-liter air. Beberapa hari kemudian ada seorang yang menyarankan agar pak Syakir di bawa ke rumah seorang solih. Atau ada yang menyebutnya wali. Apa iya hari gini masih ada wali?pikirku. Aku pun ikut berperan dalam proses membawa pak Syakir ke rumah orang solih tersebut. Tak jauh dari desaku, mungkin sekitar sembilan kiloan. Rumahnya sangat sederhana. Berlantaikan tanah, berdinding anyaman bambu, atapnya terbuat dari daun ilalang yang di jepit dengan dua bilah bambu yang tertata rapi. Ternyata masih ada rumah seperti ini gumamku dalam hati. Setelah di persilahkan masuk oleh seorang pemuda, pak Syakir di baringkan di atas sebuah dipan bambu. Aku dan yang lain duduk di kursi panjang dari kayu. Muncullah dari dalam rumah seseorang dengan gayanya yang kejawen (memakai blangkon di kepala, baju lengan panjang, dan bersarung). Mataku sontak terbelalak. Itu adalah kakek tua yang selama ini misterius bagiku. Kami bersalaman dan kemudian dimulailah terapi pengobatan dengan membacakan ayat Al-Qur’an doa ma’tsur atau istilahnya terapi ruqyah syar’iyah. Pak Syakir mengerang-erang kesakitan dan memuntahkan darah yang sangat bau sekali. Kemudian ia pingsan. Perutnya yang semula membesar itu berangsur kempis. Pak Syakir harus melakukan terapi rutin selama ia belum sembuh total. Ia disuruh datang ke rumah kakek tua itu setiap hari jum’at malam. Dan aku selalu ikut andil dalam mengantar pak Syakir ke rumah kakek tua itu.
Ya, sekarang aku tahu nama kakek tua itu. “Mbah Samudi” begitulah orang-orang memanggilnya. Ternyata dugaanku selama ini benar. Ia bukan sembarang orang. Ia adalah manusia setengah wali. Sikapnya yang sangat santun, kebersahajaanya dalam bersikap dan bertingkah, kemudian kesederhanaanya dalam hidup membuat Tuhan menyayangnya. Buktinya tampak dari wajahnya sebuah kharisma yang jarang di miliki para kiai lain. Mungkin saja jika bukan mbah Samudi orang yang sepertinya akan menggunakan kelebihan yang dimiliki untuk digunakan sebagai jembatan sumber penghasilan uang. Seperti mereka yang mengaku hebat, bisa menyembuhkan segala penyakit yang kenyataanya hanyalah tipuan saja. Tapi, seorang mbah Samudi istiqomah dengan zuhudnya yang langka dimiliki orang-orang saat ini dan ia menolong orang-orang yang membutuhkanya ikhlas demi imbalan pahala, bukan demi uang. Buktinya ia menyempatkan di hari tertentu dalam seminggu untuk diluangkan khusus melayani yang membutuhkan uluran tanganya. Sedangkan ia mencari nafkah dengan memulung dan berternak. Ia hina di mata manusia tapi ia mulia di hadapan Tuhan.
                                                                  ~@@@~