Seorang lelaki tua umurnya sekitar tujuh puluhan. Badanya kurus, dibungkus kulitnya yang berwarna cokelat tua, bahkan nyaris hitam akibat sengatan matahari dan keriput. Wajahnya nampak lebih bercahaya walau bukan berwarna putih, pelipisnya menonjol ke depan, matanya masih hitam pekat belum menunjukkan mata tua yang rabun. Aku sering melihatnya di masjid kota. Setiap hari saat aku pulang sekolah sebelum menunggu angkutan umum selalu aku sempatkan duduk di teras masjid untuk berteduh dari hawa panas yang menyengat. Disana aku melihat kakek tua itu mendekati tempat-tempat sampah, mencari rezki dari barang sisa. Tak seorang pun yang singgah di masjid itu menghiraukanya, namun hatiku sungguh berbeda. Kala aku tak melihatnya barang sehari saja aku bertanya-tanya dalam hati, “dimana kakek tua yang biasanya ku lihat itu?”.
Hari berlalu seperti biasanya aku sedang duduk di teras masjid. Kali ini kakek itu nampaknya sedang tidak sibuk. Ia bersandar di salah satu tiang masjid, matanya terpejam. Barang kali ia kecapekan memulung. Aku berjalan perlahan mendekati kakek tua itu. Ku langkahkan kaki ku sepelan mungkin agar ia tidak terbangun. Saat aku sampai di dekatnya, aku sangat kaget karena tiba-tiba terjaga dan malah menyunggingkan senyum padaku. Aku membalas dengan senyuman yang senada. Aku duduk di sampingnya, sambil memperkenalkan diri. Kakek itu pun menyambutku dengan ramah. Kemudian kita berbincang-bincang hingga adzan asar berkumandang. Seusai jama’ah asar aku kembali duduk di tempat yang tadi aku berbincang dengan kakek tua itu. Tapi kakek tua sudah tak disana lagi. Aku lupa menanyakan nama kakek itu, barang kali aku bertemu denganya lain waktu aku ingin menyapanya. Ku tanyakan nama kakek tua itu pada petugas kebersihan masjid yang sedang mengepel masjid saat itu. Tapi ia Cuma menggelengkan kepala.
Sekarang di sekolahku di adakan pelajaran tambahan hingga jam dua baru pulang. Setiap kali aku mampir di masjid itu, tak lagi tampak kakek tua yang selalu berada dalam ingatanku. Hampir satu bulan ini ia tak muncul dalam pandangan mataku. Mungkinkah Tuhan telah memanggilnya? Jika ya maka saat itulah momen pertama dan terakhirku bisa berbincang denganya. Sayang, mengapa aku bisa lupa bertanya tentang namanya. Ia hanya menyebutkan desa dimana ia dan keluarganya tinggal. Selebihnya ia memberi petuah kepadaku agar aku bersekolah sungguh-sungguh kelak akan menjadi pemuda yang berguna bagi bangsa dan agama. Ia juga berpesan agar aku selalu shalat tepat waktu dan melanggengkan wudlu tiap kali batal. Aku yakin ia bukan sembarang manusia. Cara ia bertutur sangat sopan dan mendalam. Membekas dalam hati. Tampaknya ia tidak pernah memiliki kegundahan dalam hatinya dan mungkin tak memiliki beban hidup jika dilihat dari wajahnya yang bersahaja dan penuh rona ketenangan itu. Suatu hari saaat aku pulang les di bonceng temanku aku melihatnya sekilas di jalan persawahan. Mengayuh sepeda tuanya yang dibonceng dua keranjang kanan dan kiri berisi barang rongsok. Meski berat ia tetap memacu pedal sepedanya dengan semangat. Sesekali ia berhenti di bawah sebuah pohon. Beristirahat sejenak, mengusap peluh dan mengipas-ngipaskan topi bambunya ke badannya. Jika bukan karena terburu-buru mungkin aku sudah mengajak temanku untuk membuntuti kakek tua itu sampai rumahnya. Selanjutnya ketika aku sedang berjalan-jalan sore melewati jalan persawahan aku melihatnya lagi. Kali ini ia tidak mengayuh sepeda dengan membawa barang rongsok lagi. Tapi di tangan kanannya ia membawa parang dan tangan kirinya menikam rumput. Disampingnya ada karung yang berisi rumput pula. Lagi-lagi aku kehilangan kesempatan untuk menghampirinya.
Pagi itu sekolahku libur. Kala aku sedang asyik bermain dengan adikku tiba-tiba tetangga samping rumahku ~ panggil saja pak Syakir ~ penyakitnya kambuh. Orang-orang berduyun-duyun menengoknya. Konon pak Syakir kena penyakit santet turunan dari buyutnya. Sudah beberapa dokter dan tabib, bahkan orang pintar di datangkan tapi tak kunjung sembuh jua. Jika malam tiba, teriak kesakitan membumbung di atas awan hingga terdengar sampai jarak satu kiloan. Entah sakit apa pak Syakir selalu memegang perutnya yang semakin hari semakin membuncit itu. Seperti hampir meletus dan berisi berliter-liter air. Beberapa hari kemudian ada seorang yang menyarankan agar pak Syakir di bawa ke rumah seorang solih. Atau ada yang menyebutnya wali. Apa iya hari gini masih ada wali?pikirku. Aku pun ikut berperan dalam proses membawa pak Syakir ke rumah orang solih tersebut. Tak jauh dari desaku, mungkin sekitar sembilan kiloan. Rumahnya sangat sederhana. Berlantaikan tanah, berdinding anyaman bambu, atapnya terbuat dari daun ilalang yang di jepit dengan dua bilah bambu yang tertata rapi. Ternyata masih ada rumah seperti ini gumamku dalam hati. Setelah di persilahkan masuk oleh seorang pemuda, pak Syakir di baringkan di atas sebuah dipan bambu. Aku dan yang lain duduk di kursi panjang dari kayu. Muncullah dari dalam rumah seseorang dengan gayanya yang kejawen (memakai blangkon di kepala, baju lengan panjang, dan bersarung). Mataku sontak terbelalak. Itu adalah kakek tua yang selama ini misterius bagiku. Kami bersalaman dan kemudian dimulailah terapi pengobatan dengan membacakan ayat Al-Qur’an doa ma’tsur atau istilahnya terapi ruqyah syar’iyah. Pak Syakir mengerang-erang kesakitan dan memuntahkan darah yang sangat bau sekali. Kemudian ia pingsan. Perutnya yang semula membesar itu berangsur kempis. Pak Syakir harus melakukan terapi rutin selama ia belum sembuh total. Ia disuruh datang ke rumah kakek tua itu setiap hari jum’at malam. Dan aku selalu ikut andil dalam mengantar pak Syakir ke rumah kakek tua itu.
Ya, sekarang aku tahu nama kakek tua itu. “Mbah Samudi” begitulah orang-orang memanggilnya. Ternyata dugaanku selama ini benar. Ia bukan sembarang orang. Ia adalah manusia setengah wali. Sikapnya yang sangat santun, kebersahajaanya dalam bersikap dan bertingkah, kemudian kesederhanaanya dalam hidup membuat Tuhan menyayangnya. Buktinya tampak dari wajahnya sebuah kharisma yang jarang di miliki para kiai lain. Mungkin saja jika bukan mbah Samudi orang yang sepertinya akan menggunakan kelebihan yang dimiliki untuk digunakan sebagai jembatan sumber penghasilan uang. Seperti mereka yang mengaku hebat, bisa menyembuhkan segala penyakit yang kenyataanya hanyalah tipuan saja. Tapi, seorang mbah Samudi istiqomah dengan zuhudnya yang langka dimiliki orang-orang saat ini dan ia menolong orang-orang yang membutuhkanya ikhlas demi imbalan pahala, bukan demi uang. Buktinya ia menyempatkan di hari tertentu dalam seminggu untuk diluangkan khusus melayani yang membutuhkan uluran tanganya. Sedangkan ia mencari nafkah dengan memulung dan berternak. Ia hina di mata manusia tapi ia mulia di hadapan Tuhan.
~@@@~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar