Tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunadaksa mereka yang menyandang gelar “kaum disabilitas” adalah seseorang yang memiliki keterbatasan fisik seperti lazimnya manusia lain. Seluruh anggota badannya memang lengkap, mempunyai mata, telinga, mulut, dan anggota badan lainnya tapi tak berfungsi sebagaimana mestinya. Bagaimana mereka melakukan aktivitas sehari-hari sedangkan mereka dalam keadaan seperti itu? Apakah mereka hanya disuruh berpangku tangan dan segala aktivitas dibantu orang lain? Tidak. Mereka tetap melakukan segala sesuatu dengan sendirinya, seperti halnya kita manusia normal. Dan mereka tidak melakukan sesuatu diluar kemampuan mereka atau jika ada yang bersedia membantunya. Tuhan memang adil, ia menciptakan mereka dalam keadaan fisik yang tak sempurna . Tapi tuhan juga memberi mereka bekal suatu keahlian tertentu yang mungkin tak dimiliki manusia normal. Kita ambil saja contoh pijat tunanetra. Mengapa orang buta yang harus memijat padahal ia tak dapat melihat bagian mana yang sakit? Sedangkan kita manusia normal yang mampu melihat bagian yang sakit itu tak bisa memijat? Mungkin bisa saja asal memijat, tapi akhirnya bukan sembuh malah tambah parah. Nah, itulah contoh kecil bahwa dibalik kedisabilitasanya ia memiliki sebuah kelebihan. Atau contoh lain misalnya mata kita dibungkam, kemudian kita disuruh untuk berjalan. Sudah pasti kita akan menabrak-nabrak sesuatu. Sedangkan mereka tunanetra asli mampu berjalan dengan bekal tongkat saja. Ada lho tetangga saya yang buta. Siapa yang sangka kalau ia buta? Ia begitu pandai menumbuk dengan menggunakan alu* dan lumpang (lesung) tanpa meleset. Ia juga menimba air di sumur kemudian memasukkan air ke dalam tempayan tanpa tumpah. Ya kalau pun tumpah sedikit wajarlah.
Coba mari kita pejamkan mata sejenak. Apa yang kita lihat? Tak ada. Hanya gelap. Bayangkan andai kita termasuk tunanetra, kita tidak bisa melihat segala keindahan yang ada di sekitar kita. Hanya mendengar sesuatu yang disebut anu tapi bagaimana bentuk dan warnanya kita tak tahu. Menderita bukan? Apa lagi jika harus dihina dan dilecehkan, tidakkah itu hanya menambah penderitaan mereka saja? Jika kita ditanya “maukah anda buta? Atau tuli? Atau bisu?” tentu tak ada yang mau. Nah, makanya itu jangan pernah kita memandang mereka dengan mata sebelah karena keterbatasan mereka. Justru mungkin mereka lebih baik dari kita dari sisi yang lain. Dan sadarkah kita mengapa tuhan menciptakan makhluknya berbagai macam bentuk? Ada yang normal, cacat dan sebagainya. Itu adalah tanda kebesaranNya agar kita mampu berfikir atas nikmat dan karunia yang telah Ia berikan pada kita. karena kita manusia adalah makhluk yang diberi kelebihan akal untuk membedakan antara hewan dan tumbuhan dan makhluk yang lain. Bukankah begitu?
Selama ini memang mereka dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat. Karena kekuranganya ia dihina, dilecehkan. Tak diberi hak sebagaimana mestinya. Padahal mereka juga manusia yang berperasaan sama seperti kita. Mereka juga merasakan sakit hati ketika dihina dan dilecehkan. Kayaknya kurang pas deh kalau mereka harus dikelompokkan dalam dunia khusus yang sejenis, maksudnya tidak dibiarkan saja berkecimpung bersama kita yang normal agar ia mengerti dan paham segala lekuk kehidupan. Sebagaimana adanya sekolah khusus bagi penyandang disabilitas atau yang biasa disebut SLB (Sekolah Luar Biasa) yang justru memisahkan antara kaum normal dan kaum disabilitas. Sehingga bisa memperkuat anggapan bahwa mereka tak layak bersosialisasi dengan kaum normal. Ya, memang betul jika mereka kita ikutkan sebagaimana kita pastinya akan tertinggal. Namun, alangkah baiknya jika dalam suatu sekolah misalnya ada kelas khusus akan tetapi saat di luar kegiatan belajar bisa berinteraksi dengan kita-kita yang normal. Waktu istirahat adalah saat yang tepat untuk berinteraksi, bermain, bercanda. Dengan seperti itu bisa tampak kesamaan derajat antara kaum disabilitas dan kaum normal. Jika di urutkan dalam kasta kaum disabilitas menempati urutan terbawah di mata masyarakat. Coba fikirkan! Mengapa kaum normal ada berbagai perlombaan yang kemudian bagi pemenangnya diberi penghargaan sedemikian rupa? Sedangkan bagi kaum disabilitas tak ada kegiatan semacam itu? Padahal mereka juga memiliki potensi. Semakin jelas bahwa memang kaum disabilitas tersingkirkan keberadaanya. Ada tuh ahli ilmu dari kalangan muslim yang terkenal dengan sebutan “Abdullah Bin Abdul Aziz Bin Baz” adalah seorang tunanetra. Salah satu bukti bahwa dibalik kekurangannya terdapat kelabihan yang sangat luar biasa. Wah, mungkin kehidupan ini akan terasa indah jika hukum persamaan hak dan sikap kepedulian tertanam pada hati masing-masing individu.bukankah dengan membantu orang lain hati kita merasa tentram? Kaum disabilitas juga manusia. Memiliki rasa, cipta, dan karya. Mereka juga bisa membantu kita saat kita membutuhkan. Jangan mentang-mentang kita berfisik sempurna berarti tidak membutuhkan uluran kaum disabilitas. Kita ini adalah makhluk sosial yang tak bisa hidup sendirian. Sebagaimana yang dipaparkan oleh ilmuwan terkenal Aristoteles tentang teorinya “zoon politicon” betul gak?
Andai mereka bisa bersatu padu menindak lanjuti ketersisihan mereka di mata masyarakat, mungkin mereka akan membuat sebuah proklamasi kemerdekaan hak. Kami para kaum disabilitas dengan ini menyatakan kemerdekaan kami, hal-hal yang mengenai penghinaan terhadap kami akan diurus oleh pihak yang berwajib dan berharap bisa diselesaikan dengan tempo sesingkat-singkatnya. Ah, tapi mengharap uluran tangan pemerintah sepertinya bagai menunggu hujan di musim kemarau. Dari kitalah yang harus memulai mengulurkan pertolongan pada mereka.
Dan dengan ini kami dari kaum normal maupun kaum disabilitas berharap agar kartunet.com merupakan sebuah wadah yang menampung /merefleksikan kehidupan inklusif yang di dalamnya tiada perbedaan antara satu sama lain, disabilitas ataupun normal, saling bahu membahu dan berbagi agar tercipta hubungan yang harmonis dalam kehidupan bermasyarakat. Meskipun lewat dunia maya, tapi mari kita rasakan keberadaanya. Kartunet.com adalah sarana penyalur isnspirasi kita semua. Jadikan kartunet.com sebuah taman yang indah berisi bunga-bunga pikiran setiap kepala, karya yang tercipta dari setiap insan disabilitas maupun normal, berhiaskan telaga cinta sesama agar tercipta angin bahu membahu yang datang menerpa jiwa-jiwa yang kurang sempurna fisiknya. Sehingga tercipta kehidupan bermasyarakat yang inklusif.

Wahai jiwa-jiwa muda bangkitlah! Mari kita melangkah bersama. Belajar dan berkarya untuk negeri kita tercinta. Dengan menerapkan prinsip “bhineka tunggal ika” dan saling merasa peduli terhadap yang lain. Camkanlah kata-kata “sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain.” Karena kita berbangsa satu bangsa indonesia, berbahasa satu bahasa indonesia, dan bertanah air satu tanah air indonesia.