MONAS
Hari ini jadwalku bersihin masjid sudah ku selesaikan. Mandi juga sudah dan kini saatnya siap-siap untuk berlibur ke Jakarta. Aku menunggu Agus yang dari tadi dandan gak selesai-selesai. Aku turun menyusuri tangga masjid sambil memeriksa barang bawaanku. Disitu aku bertemu si Asep, temen satu kamarku yang tinggal di masjid ini juga. Aku pasrahkan kunci masjid serta giliran adzanku untuk sementara ia gantikan selama aku di Jakarta nanti. Kemudian aku raih sepatu di rak dan aku pakai di serambi masjid. Nampaknya si Agus gak turun-turun juga.
“Gus,, kamana wae atuh??”.
“Cepetan dong!!! Keburu ketinggalan bis ntar kesorean lagi nyampe sana”.
Tiba-tiba agus datang terburu-buru sambil menutup tasnya yang penuh dengan bawaan.
“Sorry Ki, tadi gue mandi sambil ngepup, lama deh jadinya. Belum lagi dandanin nih rambut, masak datang-datang ke Jakarta penampilanya lusuh gitu? Waahh gak keren. Ntar gak ada yang nyantol lagi cewek-ceweknya. Ya gak??”
###
“Lama ya Ki bis nya??” Keluh Agus
“Gara-gara ente sih Gus, dandan gitu doang 5 jam. Telat deh jadinya naik bis yang Lebak Bulus.” Sahutku kesal.
“Eh tuh tuh ada bis nya”.
“Bukan yang itu, itu mah Tasik – Bekasi”.
“Duuh,, lama euy,, capek nunggunya. Cari duduk aja yuuk”.
Tak lama kemudian datang bus Primajasa Garut – Lebak Bulus. Segera aku dan Agus menaikinya. Aaaah senang rasanya akhirnya aku akan melihat wajah Ibukota. Gimana ya bentuk dan rupanya Jakarta yang selama ini banyak orang-orang pada pergi kesana? Duduk di kursi deket jendela sambil menikmati perjalanan sepanjang tol aku berkhayal ini itu apa yang akan ku lakukan nanti sesampainya dijakarta. Aku melihat si Agus sibuk menulis di nota kecil. Wajahnya kelihatan sedang mikir dan tanganya sibuk dengan pena. Segera aku sahut nota kecil itu dan aku baca coretan yang ia tuliskan barusan. Ragunan, Kota Tua, Monas, Istiqlal, PRJ, TMII, Ancol. Belum selesai aku membacanya tapi Agus menarik kertasnya dari tanganku. Ooohh tampaknya ia juga sedang melakukan hal yang sama denganku. Cuma, aku menulisnya dalam otak saja. Karena saling sibuk berhayal masing-masing akhirnya kita tertidur.
Tulalit tulalit ...
Tulalit tulalit...
Aku terbangun mendengar dering sms di hapeku. Segera aku merogoh hape di saku celanaku. Ternyata sms dari si Habib.
Habib : “Bang Muki sampe mana?? kok gak nyampe-nyampe, jangan-jangan nyasar yaaa???”
Ku buka mata lebar-lebar, mencari petunjuk sampai mana saat ini aku berada.
Aku : “Nyampe serpong Mas Bro. Masih jauh gak yaa?”
Habib : “Waahh, anda kesasar. Cepet turun naik angkot yang ke Lebak Bulus. Setelah di Lebak Bulus naik angkot warna merah nomor 02 bilang turun di masjid Al-Ikhlas. Aku tunggu disana, ok.”
Aku bangunkan Agus dan minta turun sama keneknya. Tanpa bertanya terlebih dahulu aku dan Agus melompat.
“Aaahhh ente bikin tidur gue ga nyenyak, Ki”.
“Yee,,, kita tuh nyasar Gus. Ato harusnya tadi aku turun sendiri aja dan ente aku biarin dibawa bus. Mau?”
“Enak aja, jadi gelandangan bisa-bisa gue ntar. Kan gue kaga ngarti sama sekali seluk-beluk jakarta. Jadi mangsa empuk deh sama penjahat kayak di tivi-tivi. Ntar mak Gue dikampung nangis-nangis kehilangan anaknya yang paling ganteng ini”.
“Makanya..”
“Trus kita kemana nih, Ki?” tanya Agus kebingungan.
“Kita ditunggu Habib di Masjid Al-Ikhlas”.
“Iya, tapi kemana arahnya Masjid Al-Ikhlasnya?”.
“Kesana!” (Sambil menunjuk langit).
“Iiiihhh..” Agus kesal.
“Eh Gus, tuh ada angkot naik yuuk” Ajakku.
“Turun masjid Al Ikhlas ya Bang?”
“Iya.” Jawab supir dingin.
Dari tadi muter-muter gak nemu masjid Al Ikhlas. Aku kok ngerasa janggal yaa? Jangan-jangan dikibulin sama supir angkotnya.
“Bang masjid Al Ikhlas masih jauh yaa? Dari tadi kok gak nyampe-nyampe?” Tanyaku
“Mana ada masjid Al Ikhlas di jalur ini?” jawab supir ketus.
“Tadi katanya lewat masjid Al Ikhlas?” Sanggahku kecewa.
“Ya turun aja cari sendiri sana masjidnya. Saya ini supir Mas, bukan Polisi”.
“Udah bang turun sini aja.” Sahut Agus.
Agus menyodorkan uang dua puluh ribuan, sopir angkot membanting setir dan tancap gas kencang-kencang.
“Huaaahhh,,, sialan tuh supir.” Gerutuku.
“Udahlah ki, ga usah ngamuk kaya banteng gitu. Pengalaman kita pertama datang di Jakarta.” Kata Agus menenangkanku.
“Huuufffhh..” Aku mendengus.
Aku duduk berteduh di bawah pohon. Si Agus membeli minuman di kios kecil dan menanyakan arah masjid Al Ikhlas. Aku tak begitu menggubrisnya, paling-paling juga di boongin lagi. Beberapa saat kemudian si Agus ngajakin naik angkot penuh keyakinan. Aku-pun menurutinya. Ternyata kali ini dia bener, tampak dari seberang jalan tulisan besar MASJID AL IKHLAS JATI PADANG. Kami segera membayar ongkos dan turun. Disana sudah terlihat Habib malah asik main motor percobaan yang ada di depan dealer motor.
###
Ku rebahkan tubuh cungkringku di atas kasur lantai di depan tivi di rumah kos Habib dan istrinya. Dibelai dengan kipas angin serta suguhan es buah yang sangat segar dan ditambah sambutan ramah dari Habib dan istrinnya penat ku pun hilang. Kita ngobrol-ngobrol bareng tentang nasib sial yang aku alami barusan. Tak terasa tiba-tiba adzan Asar mulai berkumandang. Setelah mandi dan solat asar berjamaah kami akan berkunjung ke Istiqlal dan monas. Yess!!! akhirnya aku-pun akan melihat Monas dan Istiqlal dengan mata kepalaku sendiri, bukan dari siaran tivi lagi. Dan yang paling mengasikkan lagi kali ini adalah naik busway. Ehehehemmm akhirnya ga cuma penasaran doang, Busway tuh apaan sih? Naik busway rasanya gimana?. Hassseeeekkkk. Setelah beli tiket buat empat orang (aku, Agus, Habib dan istrinya) kita nunggu bus di dalam halte. Duuuhhh kok lama yaa? Gak sabar nih gimana rasanya naik busway? Kaya naik delman atau becak ato odong-odong sih? Nah, tuh dia busway koridor 6 warna abu-abu nongol juga. Para penumpang berdesakan masuk. Didalam bus aku celingukan, loh kok aneh ya? Tempat duduknya saling berhadapan. Gak kayak bus kota yang biasanya aku tumpangin, bangkunya rapat banget sehingga pas banyak penumpang susah turun. Hmmm aku nikmati aja deh. Sungguh menakjubkan. Biar-pun aku gak kebagihan tempat duduk, tapi tenang, aku kuat berdiri kok. hehehe. Seeerrrrr tarikanya halus, supirnya pinter nih.
“Pemberhentian selanjutnya Pejaten, periksa barang bawaan anda dan hati-hati melangkah. The next stop, Pejaten shelter check your blonging and step carefully. Thank you”.
Loh loh suara siapa tuh yang omong? Kayaknya dari arah depan. Supirnya kali yaa?
Bukan, supirnya cowok. Tadi kan suara cewek. Aku tak menghiraukanya lagi. Dan beberapa saat kemudian berkali-kali aku dengar lagi suara yang hampir sama seperti tadi. Ooo ternyata itu suara pemberitahuan otomatis. Waaahhh canggih juga ya? Di Bandung kagak ada kayak ginian.
“Eh eh ki itu tuh gedung KPK, ooo disini toh rupanya tempat pemberantasan para gayus gayus” Celoteh Agus.
“Aaahh ente mah kampungan Gus, baru liat gitu doang heran. Dasar”. Ejekku.
“Yeee,,, ini mah bukan lagi dari tipi Ki. Asli liat pake mata Ki. Kapan lagi coba bisa liat langsung”. Bantah Agus.
Ku lirik Habib dan istrinya tampak cengar-cengir. Mungkin geli liat tingkah kami berdua. Maklum wong ndeso. Hihihiiii... gumamku dalam hati.
“Muki, Agus kita transit di dukuh atas”. Kata Habib.
Kami pun mengikuti nya. Sambil berjalan diotakku masih terngiang-ngiang kata-kata “transit”. Apa ya maksudnya? wahahaha bego banget sih Muki.
Sementara para penumpang berjejalan di pintu halte menunggu kedatangan bus tiba tiba mataku tertuju pada aksi salah seorang penumpang Busway. Seorang cewek di ajak ngobrol seseorang dan temanya mengambil handphonenya dari saku celana belakang dengan berpura-pura mengambil sesuatu yang jatuh. Waktu aku hampir memberi tahu cewek itu tiba-tiba Habib menarik tas ku mendorongku ke dalam busway yang barusan datang.
###
“Waaaahh itu dia Istiqlal di depan mata kita, Gus”. Seruku pada si Agus.
“Iya Ki, Istiqlal i’m coming”. Tambah Agus.
Kami berlarian memasuki gerbang Istiqlal yang begitu luas. Tak lupa juga berfoto-foto ria walau hari sudah petang. Kemudian terdengar merdunya adzan membangkitkan semangat kaum muslimin untuk menghadap Tuhanya. Kami memasuki masjid dan berwudlu kemudian ikut solat berjamaah. Dilanjutkan dzikir dan membaca beberapa ayat Al-Qur’an. Aku bersandar di salah satu tiang Istiqlal yang besar itu. Mataku tertuju pada sesuatu di depanku agak jauh. Mirip sebuah handphone. Ku pandangi sesuatu itu lama. Ku yakinkan apa yang ku lihat, dan akhirnya aku melangkah menghampirinya. Ya, gak salah lagi itu adalah sebuah handphone. Mungkin milik salah satu jamaah di masjid ini. Awalnya aku bermaksud mengambil handphone ini. Handphone yang lumayan bagus. Tapi, aah gak mau. Sesuatu yang gak barokah. Mana sikap kejujuranku sebagai pemuda muslim. Baiklah, akhirnya aku menyerahkan hp itu ke seorang petugas berseragam hijau di masjid. Ku awasi terus petugas tersebut. Ia menaruh hp itu di sakunya. Kenapa tidak langsung di bawa ke pusat informasi aja ya untuk di umumkan barang kali pemiliknya mencari cari.
Pikiranku melanglang yang enggak-enggak. Mendingan hp tadi ga usah ku kasih ke petugas itu. Buat aku sendiri malah enak. Lagian setelah aku serahkan ke petugas juga malah di sakuin. Huuuffft.
Setelah berkeliling masjid sama Agus, kami menghampiri Habib dan istrinya di depan pintu keluar. Dan saatnya menuju Monas. Hasseeeeekkkk
Ini lho Monas yang selama ini orang-orang pada mengunjunginya. Dan kali ini aku pun mendatanginya. Sebuah monumen yang di bangun tingginya kurang lebih seratus tiga puluh lima meteran ini pucuknya berupa emas murni yang ketika malam hari tampak bercahaya di atas sana. Sungguh indah, apa lagi malam bulan purnama seperti ini jika kita berada di sebelah baratnya maka akan tampak sang rembulan di sangga pucuk emas Monas. Wuuuiiihhh,,, kereeennn. Suasana yang romantis memang cocok bagi para muda- mudi yang sedang asyik berlalu lalang disana sini. Ada yang berjalan, bersepeda, jogging, ada pula yang main futsal, basket, bermain sama anak-anak di halaman dan taman monas yang sangat luas itu. Waaahhh,, seru banget memang. Kita makan-makan di atas rerumputan taman monas sambil ngopi. Bola mataku berjelajah ke seluruh sudut sekitar Monas. Aku tertarik pada tempat air mancur yang di ceritakan istri Habib begitu menggebunya. Saking penasarannya aku bertekad sama Agus melihat kolam yang ada air mancur tersebut dengan menyusuri tempat gelap diantara pepohonan rindang. Iseng-iseng aja lewat tempat gelap. Mau uji nyali. Ternyata tak seperti yang ku duga, aku mengira disana tak ada seorang pun. Bahkan tak kalah ramainya di tempat–tempat terang. Mataku agak kabur setiap berada dalam kegelapan. Aku pun terpaksa melebarkan mataku untuk terus berjalan. Aku minta si Agus untuk menuntunku ke bawah sebuah pohon untuk berhenti sebentar sekedar menetralkan mata. Tak satu pun pohon yang tak ada orang dibawahnya. Biar pun mataku kabur tapi aku masih mampu melihat dalam remang-remang. Setiap pohon menjadi tempat perlindungan bagi para pasangan muda-mudi yang sedang bermesraan. Berangkulan, pelukan, pangku-pangkuan dan sejenisnya. Kenapa musti di tempat gelap ya? Takut ketauan sama emaknya kali kalo lagi pacaran? Atau biar bisa melakukan hal yang lebih? Nah mending di hotel dong? Yaa mungkin kagak punya duit kali, jadi dimana aja yang penting enjoy. Hahaha. Agus mengajakku duduk di sebuah tikar yang telah di gelar. Kami duduk disana beberapa saat. Selang beberapa menit dari belakang ada tangan meraba punggungku. Ah paling juga agus, aku biarkan saja tangan itu. Lama-lama rabaan itu semakin membuat berdiri bulu romaku.
“ Apa apaan sih Gus?”.
“ Kamu yang apa apaan, gatel banget ente. Pengen ya sama mereka?”.
“Iiihh,, najis dah kalo sama ente. Gue normal, gak gay”.
Tiba-tiba “ mari Bang, sekali main seratus ribu doang sampai puas”
“Huwaaaaaaaaaaaa.” Jeritku sama Agus.
Kami berlari tanpa arah. Melangkahkan kaki melalui insting. Tanpa sengaja kami tersandung seperti badan manusia bertumpuk atas dan bawah. Dan kami put terperosot dalam tanah cekung. Kemudian ada yang mengumpat “woey jalan pake mata dong! Ganggu orang lagi hepi aja!”
“Ma ma ma maaf Bang, kami ga sengaja.” Pintaku sama Agus.
Segera kami beranjak dan berjalan lagi dengan lebih hati-hati. Kami bingung harus melangkah kemana, kanan / kiri / depan atau belakang sedangkan tiap penjuru terdengar suara aneh, desah-desah kesakitan, nafas-nafas mesum menggema di bawah rimbun pepohonan dan kegelapan. Bulu kudukku merinding, tegang rasanya, tergoda hawa yang menggiurkan. Oh Tuhan, kuatkan kami. Kami terus melangkahkan kaki, Akhirnya sedikit lagi kita akan sampai tempat terang juga. Di akhir tempat itu aku sama agus tercengang, diam tanpa kata, saling berpandangan. Rasanya bibir sampai kelu untuk berkata, sendi pun seakan lumpuh, nafas tersengal-sengal. Menyaksikan adegan cewek sama cowok buka celana. Tampak sangat jelas di mata kami, apa yang akan mereka lakukan.
“Lariiii...!!” Kami terengah-engah berlari, mencari tempat aman untuk menormalkan nafas. Astaghfirullah .. astaghfirullah.... kami tak henti-hentinya menyebut nama Tuhan. Habib dan istrinya menghampiri kami dan ngakak sambil berkata “Siapa suruh keluyuran sampe situ?”
~###~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar