Entri Populer

Kamis, 24 November 2011

oooohh tidaaaaaaaaaaaakkk

hahaha hihihi huhuhu hehehe hohoho...
wah, pasti pada mengira kalau aku setres. Bukan, tapi apa ya? pengen ketawa ngakak aja. Heeemmm ada apa gerangan yang membuatku ngakak kayak gitu? tau gak sih? aku kan ikut kontes blogging yang diadain kartunet.com itu? ya iseng-iseng aja aku posting artikel bikinanku. Eh, ternyata yang ngikut kontes ini bukan orang gemen-gemen euy. Dari sekian peserta cuma aku yang anak ingusan.huhu apa kata kontestan yang lain yaa? hahaha bocah ingusan pake ikut kontes segala. udah gitu artikelnya gak menarik lagi.huuu
Semua kontestan keren euy, artikelnya bagus, udah gitu udah pada jago blogging semua. sedangkan aku kan baru belajar, bikin blog juga baru saja. followernya aja gak sebanyak mereka. oh, minder banget deh. andai bisa ku hapus, eits tapi jangan ding biar aja jadi pajangan di blog ku. masalah kalah mah udah keliatan.hahaha dasar bocah ingusan nekat aku ini. gak ngaca dulu sih! bayangkan kontestan itu udah pada senior bo! aku aja kuliah belom kelar. au ahhh...
yang pasti aku malu.oooohhh tidaaaaaaaaaaakk!!!!!!!!!!!!

Selasa, 15 November 2011

Disabilitas dan Pandangan Masyarakat



Tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunadaksa mereka yang menyandang gelar “kaum disabilitas” adalah seseorang yang memiliki keterbatasan fisik seperti lazimnya manusia lain. Seluruh anggota badannya memang lengkap, mempunyai mata, telinga, mulut, dan anggota badan lainnya tapi tak berfungsi sebagaimana mestinya. Bagaimana mereka melakukan aktivitas sehari-hari sedangkan mereka dalam keadaan seperti itu? Apakah mereka hanya disuruh berpangku tangan dan segala aktivitas dibantu orang lain? Tidak. Mereka tetap melakukan segala sesuatu dengan sendirinya, seperti halnya kita manusia normal. Dan mereka tidak melakukan sesuatu diluar kemampuan mereka atau jika ada yang bersedia membantunya. Tuhan memang adil, ia menciptakan mereka dalam keadaan fisik yang tak sempurna . Tapi tuhan juga memberi mereka bekal suatu keahlian tertentu yang mungkin tak dimiliki manusia normal. Kita ambil saja contoh pijat tunanetra. Mengapa  orang buta yang harus memijat padahal ia tak dapat melihat bagian mana yang sakit? Sedangkan kita manusia normal yang mampu melihat bagian yang sakit itu tak bisa memijat? Mungkin bisa saja asal memijat, tapi akhirnya bukan sembuh malah tambah parah. Nah, itulah contoh kecil bahwa dibalik kedisabilitasanya ia memiliki sebuah kelebihan. Atau contoh lain misalnya mata kita dibungkam, kemudian kita disuruh untuk berjalan. Sudah pasti kita akan menabrak-nabrak sesuatu. Sedangkan mereka tunanetra asli mampu berjalan dengan bekal tongkat saja. Ada lho tetangga saya yang buta. Siapa yang sangka kalau ia buta? Ia begitu pandai menumbuk dengan menggunakan alu* dan lumpang (lesung) tanpa meleset. Ia juga menimba air di sumur kemudian memasukkan air ke dalam tempayan tanpa tumpah. Ya kalau pun tumpah sedikit wajarlah.
Coba mari kita pejamkan mata sejenak. Apa yang kita lihat? Tak ada. Hanya gelap. Bayangkan andai kita termasuk tunanetra, kita tidak bisa melihat segala keindahan yang ada di sekitar kita. Hanya mendengar sesuatu yang disebut anu tapi bagaimana bentuk dan warnanya kita tak tahu. Menderita bukan? Apa lagi jika harus dihina dan dilecehkan, tidakkah itu hanya menambah penderitaan mereka saja? Jika kita ditanya “maukah anda buta? Atau tuli? Atau bisu?” tentu tak ada yang mau. Nah, makanya itu jangan pernah kita memandang mereka dengan mata sebelah karena keterbatasan mereka. Justru mungkin mereka lebih baik dari kita dari sisi yang lain. Dan sadarkah kita mengapa tuhan menciptakan makhluknya berbagai macam bentuk? Ada yang normal, cacat dan sebagainya. Itu adalah tanda kebesaranNya agar kita mampu berfikir atas nikmat dan karunia yang telah Ia berikan pada kita. karena kita manusia adalah makhluk yang diberi kelebihan akal untuk membedakan antara hewan dan tumbuhan dan makhluk yang lain. Bukankah begitu?
Selama ini memang mereka dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat. Karena kekuranganya ia dihina, dilecehkan.  Tak diberi hak sebagaimana mestinya. Padahal mereka juga manusia yang berperasaan sama seperti kita. Mereka  juga merasakan sakit hati ketika dihina dan dilecehkan. Kayaknya kurang pas deh kalau mereka harus dikelompokkan dalam dunia khusus yang sejenis, maksudnya tidak dibiarkan saja berkecimpung bersama kita yang normal agar ia mengerti dan paham segala lekuk kehidupan. Sebagaimana adanya sekolah khusus bagi penyandang disabilitas atau yang biasa disebut SLB (Sekolah Luar Biasa) yang justru memisahkan antara kaum normal dan kaum disabilitas. Sehingga bisa memperkuat anggapan bahwa mereka tak layak bersosialisasi dengan kaum normal. Ya, memang betul jika mereka kita ikutkan sebagaimana kita pastinya akan tertinggal. Namun, alangkah baiknya jika dalam suatu sekolah misalnya ada kelas khusus akan tetapi saat di luar kegiatan belajar bisa berinteraksi dengan kita-kita yang normal. Waktu istirahat adalah saat yang tepat untuk berinteraksi, bermain, bercanda. Dengan seperti itu bisa tampak kesamaan derajat antara kaum disabilitas dan kaum normal. Jika di urutkan dalam kasta kaum disabilitas menempati urutan terbawah di mata masyarakat. Coba fikirkan! Mengapa kaum normal ada berbagai perlombaan yang kemudian bagi pemenangnya diberi penghargaan sedemikian rupa? Sedangkan bagi kaum disabilitas tak ada kegiatan semacam itu? Padahal mereka juga memiliki potensi. Semakin jelas bahwa memang kaum disabilitas tersingkirkan keberadaanya. Ada tuh ahli ilmu dari kalangan muslim yang terkenal dengan sebutan “Abdullah Bin Abdul Aziz Bin Baz” adalah seorang tunanetra. Salah satu bukti bahwa dibalik kekurangannya terdapat kelabihan yang sangat luar biasa. Wah, mungkin kehidupan ini akan terasa indah jika hukum persamaan hak dan sikap kepedulian tertanam pada hati masing-masing individu.bukankah dengan membantu orang lain hati kita merasa tentram?  Kaum disabilitas juga manusia. Memiliki rasa, cipta, dan karya. Mereka juga bisa membantu kita saat kita membutuhkan. Jangan mentang-mentang kita berfisik sempurna berarti tidak membutuhkan uluran kaum disabilitas. Kita ini adalah makhluk sosial yang tak bisa hidup sendirian. Sebagaimana yang dipaparkan oleh ilmuwan terkenal Aristoteles tentang teorinya “zoon politicon” betul gak?
Andai mereka bisa bersatu padu menindak lanjuti ketersisihan mereka di mata masyarakat, mungkin mereka akan membuat sebuah proklamasi kemerdekaan hak. Kami para kaum disabilitas dengan ini menyatakan kemerdekaan kami, hal-hal yang mengenai penghinaan terhadap kami akan diurus oleh pihak yang berwajib dan berharap bisa diselesaikan dengan tempo sesingkat-singkatnya.  Ah, tapi mengharap uluran tangan pemerintah sepertinya bagai menunggu hujan di musim kemarau. Dari kitalah yang harus memulai mengulurkan pertolongan pada mereka.
Dan dengan ini kami dari kaum normal maupun kaum disabilitas berharap agar kartunet.com merupakan sebuah wadah yang menampung /merefleksikan kehidupan inklusif yang di dalamnya tiada perbedaan antara satu sama lain, disabilitas ataupun normal, saling bahu membahu dan berbagi agar tercipta hubungan yang harmonis dalam kehidupan bermasyarakat. Meskipun lewat dunia maya, tapi mari kita rasakan keberadaanya. Kartunet.com adalah sarana penyalur isnspirasi kita semua. Jadikan kartunet.com sebuah taman yang indah berisi bunga-bunga pikiran setiap kepala, karya yang tercipta dari setiap insan disabilitas maupun normal, berhiaskan telaga cinta sesama agar tercipta angin bahu membahu yang datang menerpa jiwa-jiwa yang kurang sempurna fisiknya. Sehingga tercipta kehidupan bermasyarakat yang inklusif.
Wahai jiwa-jiwa muda bangkitlah! Mari kita melangkah bersama. Belajar dan berkarya untuk negeri kita tercinta. Dengan menerapkan prinsip “bhineka tunggal ika” dan saling merasa peduli terhadap yang lain. Camkanlah kata-kata “sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain.” Karena kita berbangsa satu bangsa indonesia, berbahasa satu bahasa indonesia, dan bertanah air satu tanah air indonesia.

Rabu, 02 November 2011

Manusia Setengah Wali


Seorang lelaki tua umurnya sekitar tujuh puluhan. Badanya kurus, dibungkus kulitnya yang berwarna cokelat tua, bahkan nyaris hitam akibat sengatan matahari dan keriput. Wajahnya nampak lebih bercahaya walau bukan berwarna putih, pelipisnya menonjol ke depan, matanya masih hitam pekat belum menunjukkan mata tua yang rabun. Aku sering melihatnya di masjid kota. Setiap hari saat aku pulang sekolah sebelum menunggu angkutan umum selalu aku sempatkan duduk di teras masjid untuk berteduh dari hawa panas yang menyengat. Disana aku melihat kakek tua itu mendekati tempat-tempat sampah, mencari rezki dari barang sisa. Tak seorang pun yang singgah di masjid itu menghiraukanya, namun hatiku sungguh berbeda. Kala aku tak melihatnya barang sehari saja aku bertanya-tanya dalam hati, “dimana kakek tua yang biasanya ku lihat itu?”.
Hari berlalu seperti biasanya aku sedang duduk di teras masjid. Kali ini kakek itu nampaknya sedang tidak sibuk. Ia bersandar di salah satu tiang masjid, matanya terpejam. Barang kali ia kecapekan memulung. Aku berjalan perlahan mendekati kakek tua itu. Ku langkahkan kaki ku sepelan mungkin agar ia tidak terbangun. Saat aku sampai di dekatnya, aku sangat kaget karena tiba-tiba terjaga dan malah menyunggingkan senyum padaku. Aku  membalas dengan senyuman yang senada. Aku duduk di sampingnya, sambil memperkenalkan diri. Kakek itu pun menyambutku dengan ramah. Kemudian kita berbincang-bincang hingga adzan asar berkumandang. Seusai jama’ah asar aku kembali duduk di tempat yang tadi aku berbincang dengan kakek tua itu. Tapi kakek tua sudah tak disana lagi. Aku lupa menanyakan nama kakek itu, barang kali aku bertemu denganya lain waktu aku ingin menyapanya. Ku tanyakan nama kakek tua itu pada petugas kebersihan masjid yang sedang mengepel masjid saat itu. Tapi ia Cuma menggelengkan kepala.
Sekarang di sekolahku di adakan pelajaran tambahan hingga jam dua baru pulang. Setiap kali aku mampir di masjid itu, tak lagi tampak kakek tua yang selalu berada dalam ingatanku. Hampir satu bulan ini ia tak muncul dalam pandangan mataku. Mungkinkah Tuhan telah memanggilnya? Jika ya maka saat itulah momen pertama dan terakhirku bisa berbincang denganya. Sayang, mengapa aku bisa lupa bertanya tentang namanya. Ia hanya menyebutkan desa dimana ia dan keluarganya tinggal. Selebihnya ia memberi petuah kepadaku agar aku bersekolah sungguh-sungguh kelak akan menjadi pemuda yang berguna bagi bangsa dan agama. Ia juga berpesan agar aku selalu shalat tepat waktu dan melanggengkan wudlu tiap kali batal. Aku yakin ia bukan sembarang manusia. Cara ia bertutur sangat sopan dan mendalam. Membekas dalam hati. Tampaknya ia tidak pernah memiliki kegundahan dalam hatinya dan mungkin tak memiliki  beban hidup jika dilihat dari wajahnya yang bersahaja dan penuh rona ketenangan itu. Suatu hari saaat aku pulang les di bonceng temanku aku melihatnya sekilas di jalan persawahan. Mengayuh sepeda tuanya yang dibonceng dua keranjang kanan dan kiri berisi barang rongsok. Meski berat ia tetap memacu pedal sepedanya dengan semangat. Sesekali ia berhenti di bawah sebuah pohon. Beristirahat sejenak, mengusap peluh dan mengipas-ngipaskan topi bambunya ke badannya.  Jika bukan karena terburu-buru mungkin aku sudah mengajak temanku untuk membuntuti kakek tua itu sampai rumahnya. Selanjutnya ketika aku sedang berjalan-jalan sore melewati jalan persawahan aku melihatnya lagi. Kali ini ia tidak mengayuh sepeda dengan membawa barang rongsok lagi. Tapi di tangan kanannya ia membawa parang dan tangan kirinya menikam rumput. Disampingnya ada karung yang berisi rumput pula. Lagi-lagi aku kehilangan kesempatan untuk menghampirinya.
Pagi itu sekolahku libur. Kala aku sedang asyik bermain dengan adikku tiba-tiba tetangga samping rumahku ~ panggil saja pak Syakir ~ penyakitnya kambuh. Orang-orang berduyun-duyun menengoknya. Konon pak Syakir kena penyakit santet turunan dari buyutnya. Sudah beberapa dokter dan tabib, bahkan orang pintar di datangkan tapi tak kunjung sembuh jua. Jika malam tiba, teriak kesakitan membumbung di atas awan hingga terdengar sampai jarak satu kiloan. Entah sakit apa pak Syakir selalu memegang perutnya yang semakin hari semakin membuncit itu. Seperti hampir meletus dan berisi berliter-liter air. Beberapa hari kemudian ada seorang yang menyarankan agar pak Syakir di bawa ke rumah seorang solih. Atau ada yang menyebutnya wali. Apa iya hari gini masih ada wali?pikirku. Aku pun ikut berperan dalam proses membawa pak Syakir ke rumah orang solih tersebut. Tak jauh dari desaku, mungkin sekitar sembilan kiloan. Rumahnya sangat sederhana. Berlantaikan tanah, berdinding anyaman bambu, atapnya terbuat dari daun ilalang yang di jepit dengan dua bilah bambu yang tertata rapi. Ternyata masih ada rumah seperti ini gumamku dalam hati. Setelah di persilahkan masuk oleh seorang pemuda, pak Syakir di baringkan di atas sebuah dipan bambu. Aku dan yang lain duduk di kursi panjang dari kayu. Muncullah dari dalam rumah seseorang dengan gayanya yang kejawen (memakai blangkon di kepala, baju lengan panjang, dan bersarung). Mataku sontak terbelalak. Itu adalah kakek tua yang selama ini misterius bagiku. Kami bersalaman dan kemudian dimulailah terapi pengobatan dengan membacakan ayat Al-Qur’an doa ma’tsur atau istilahnya terapi ruqyah syar’iyah. Pak Syakir mengerang-erang kesakitan dan memuntahkan darah yang sangat bau sekali. Kemudian ia pingsan. Perutnya yang semula membesar itu berangsur kempis. Pak Syakir harus melakukan terapi rutin selama ia belum sembuh total. Ia disuruh datang ke rumah kakek tua itu setiap hari jum’at malam. Dan aku selalu ikut andil dalam mengantar pak Syakir ke rumah kakek tua itu.
Ya, sekarang aku tahu nama kakek tua itu. “Mbah Samudi” begitulah orang-orang memanggilnya. Ternyata dugaanku selama ini benar. Ia bukan sembarang orang. Ia adalah manusia setengah wali. Sikapnya yang sangat santun, kebersahajaanya dalam bersikap dan bertingkah, kemudian kesederhanaanya dalam hidup membuat Tuhan menyayangnya. Buktinya tampak dari wajahnya sebuah kharisma yang jarang di miliki para kiai lain. Mungkin saja jika bukan mbah Samudi orang yang sepertinya akan menggunakan kelebihan yang dimiliki untuk digunakan sebagai jembatan sumber penghasilan uang. Seperti mereka yang mengaku hebat, bisa menyembuhkan segala penyakit yang kenyataanya hanyalah tipuan saja. Tapi, seorang mbah Samudi istiqomah dengan zuhudnya yang langka dimiliki orang-orang saat ini dan ia menolong orang-orang yang membutuhkanya ikhlas demi imbalan pahala, bukan demi uang. Buktinya ia menyempatkan di hari tertentu dalam seminggu untuk diluangkan khusus melayani yang membutuhkan uluran tanganya. Sedangkan ia mencari nafkah dengan memulung dan berternak. Ia hina di mata manusia tapi ia mulia di hadapan Tuhan.
                                                                  ~@@@~

Minggu, 30 Oktober 2011

Dua Buah Hati

Dua buah hati
Yang kau tinggalkan untukku
Kini beranjak tumbuh
Menjadi bidadari

Dua buah hati
Yang dulu masih bayi
Sekarang mereka mampu berlari
Tertawa, berekspresi
Menghiasi gubuk mini

Dua buah hati
Mereka semakin pandai
Kala mereka bertanya disuatu hari
"Dimana ayah kami"

Ku kabarkan pada dua buah hati
Ayahmu telah hilang
Hilang ingatan
Tentang janji suci
Yang terikrar indah pada sepuluh februari

Jumat, 28 Oktober 2011


MONAS
Hari ini jadwalku bersihin masjid sudah ku selesaikan. Mandi juga sudah dan kini saatnya siap-siap untuk berlibur ke Jakarta. Aku menunggu Agus yang dari tadi dandan gak selesai-selesai. Aku turun menyusuri tangga masjid sambil memeriksa barang bawaanku. Disitu aku bertemu si Asep, temen satu kamarku yang tinggal di masjid ini juga. Aku pasrahkan kunci masjid serta giliran adzanku untuk sementara ia gantikan selama aku di Jakarta nanti. Kemudian aku raih sepatu di rak dan aku pakai di serambi masjid. Nampaknya si Agus gak turun-turun juga.
“Gus,, kamana wae atuh??”.
“Cepetan dong!!! Keburu ketinggalan bis ntar kesorean lagi nyampe sana”.
Tiba-tiba agus datang terburu-buru sambil menutup tasnya yang penuh dengan bawaan.
“Sorry Ki, tadi gue mandi sambil ngepup, lama deh jadinya. Belum lagi dandanin nih rambut, masak datang-datang ke Jakarta penampilanya lusuh gitu? Waahh gak keren. Ntar gak ada yang nyantol lagi cewek-ceweknya. Ya gak??”
###
“Lama ya Ki bis nya??” Keluh Agus
“Gara-gara ente sih Gus, dandan gitu doang 5 jam. Telat deh jadinya naik bis yang Lebak Bulus.” Sahutku kesal.
“Eh tuh tuh ada bis nya”.
“Bukan yang itu, itu mah Tasik – Bekasi”.
“Duuh,, lama euy,, capek nunggunya. Cari duduk aja yuuk”.
Tak lama kemudian datang bus Primajasa Garut – Lebak Bulus. Segera aku dan Agus menaikinya. Aaaah senang rasanya akhirnya aku akan melihat wajah Ibukota. Gimana ya bentuk dan rupanya Jakarta yang selama ini banyak orang-orang pada pergi kesana? Duduk di kursi deket jendela sambil menikmati perjalanan sepanjang tol aku berkhayal ini itu apa yang akan ku lakukan nanti sesampainya dijakarta. Aku melihat si Agus sibuk menulis di nota kecil. Wajahnya kelihatan sedang mikir dan tanganya sibuk dengan pena. Segera aku sahut nota kecil itu dan aku baca coretan yang ia tuliskan barusan. Ragunan, Kota Tua, Monas, Istiqlal, PRJ, TMII, Ancol.  Belum selesai aku membacanya tapi Agus menarik kertasnya dari tanganku. Ooohh tampaknya ia juga sedang melakukan hal yang sama denganku. Cuma, aku menulisnya dalam otak saja. Karena saling sibuk berhayal masing-masing akhirnya kita tertidur.
Tulalit tulalit ...
Tulalit tulalit...
Aku terbangun mendengar dering sms di hapeku. Segera aku merogoh hape di saku celanaku. Ternyata sms dari si Habib.
Habib : “Bang Muki sampe mana?? kok gak  nyampe-nyampe, jangan-jangan nyasar yaaa???”
Ku buka mata lebar-lebar, mencari petunjuk sampai mana saat ini aku berada.
Aku : “Nyampe serpong Mas Bro. Masih jauh gak yaa?”
Habib : “Waahh, anda kesasar. Cepet turun naik angkot yang ke Lebak Bulus. Setelah di Lebak Bulus naik angkot warna merah nomor 02 bilang turun di masjid Al-Ikhlas. Aku tunggu disana, ok.”
Aku bangunkan Agus dan minta turun sama keneknya. Tanpa bertanya terlebih dahulu aku dan Agus melompat.
“Aaahhh ente bikin tidur gue ga nyenyak, Ki”.
“Yee,,, kita tuh nyasar Gus. Ato harusnya tadi aku turun sendiri aja dan ente aku biarin dibawa bus. Mau?”
“Enak aja, jadi gelandangan bisa-bisa gue ntar. Kan gue kaga ngarti sama sekali seluk-beluk jakarta. Jadi mangsa empuk deh sama penjahat kayak di tivi-tivi. Ntar mak Gue dikampung nangis-nangis kehilangan anaknya yang paling ganteng ini”.
“Makanya..”
“Trus kita kemana nih, Ki?” tanya Agus kebingungan.
“Kita ditunggu Habib di Masjid Al-Ikhlas”.
“Iya, tapi kemana arahnya Masjid Al-Ikhlasnya?”.
“Kesana!” (Sambil menunjuk langit).
“Iiiihhh..” Agus kesal.
“Eh Gus, tuh ada angkot naik yuuk” Ajakku.
“Turun masjid Al Ikhlas ya Bang?”
“Iya.” Jawab supir dingin.
Dari tadi muter-muter gak nemu masjid Al Ikhlas. Aku kok ngerasa janggal yaa? Jangan-jangan dikibulin sama supir angkotnya.
“Bang masjid Al Ikhlas masih jauh yaa? Dari tadi kok gak nyampe-nyampe?” Tanyaku
“Mana ada masjid Al Ikhlas di jalur ini?” jawab supir ketus.
“Tadi katanya lewat masjid Al Ikhlas?” Sanggahku kecewa.
“Ya turun aja cari sendiri sana masjidnya. Saya ini supir Mas, bukan Polisi”.
“Udah bang turun sini aja.” Sahut Agus.
Agus menyodorkan uang dua puluh ribuan, sopir angkot membanting setir dan tancap gas kencang-kencang.
“Huaaahhh,,, sialan tuh supir.” Gerutuku.
“Udahlah ki, ga usah ngamuk kaya banteng gitu. Pengalaman kita pertama datang di Jakarta.” Kata Agus menenangkanku.
“Huuufffhh..” Aku mendengus.
Aku duduk berteduh di bawah pohon. Si Agus membeli minuman di kios kecil dan menanyakan arah masjid Al Ikhlas. Aku tak begitu menggubrisnya, paling-paling juga di boongin lagi. Beberapa saat kemudian si Agus ngajakin naik angkot penuh keyakinan. Aku-pun menurutinya. Ternyata kali ini dia bener, tampak dari seberang jalan tulisan besar MASJID AL IKHLAS JATI PADANG. Kami segera membayar ongkos dan turun. Disana sudah terlihat Habib malah asik main motor percobaan yang ada di depan dealer motor.
###
Ku rebahkan tubuh cungkringku di atas kasur lantai di depan tivi di rumah kos Habib dan istrinya. Dibelai dengan kipas angin serta suguhan es buah yang sangat segar dan ditambah sambutan ramah dari Habib dan istrinnya penat ku pun hilang. Kita ngobrol-ngobrol bareng tentang nasib sial yang aku alami barusan. Tak terasa tiba-tiba adzan Asar mulai berkumandang. Setelah mandi dan solat asar berjamaah kami akan berkunjung ke Istiqlal dan monas. Yess!!! akhirnya aku-pun akan melihat Monas dan Istiqlal dengan mata kepalaku sendiri, bukan dari siaran tivi lagi. Dan yang paling mengasikkan lagi kali ini adalah naik busway. Ehehehemmm akhirnya ga cuma penasaran doang, Busway tuh apaan sih? Naik busway rasanya gimana?. Hassseeeekkkk. Setelah beli tiket buat empat orang (aku, Agus, Habib dan istrinya) kita nunggu bus di dalam halte. Duuuhhh kok lama yaa? Gak sabar nih gimana rasanya naik busway? Kaya naik delman atau becak ato odong-odong sih? Nah, tuh dia busway koridor 6 warna abu-abu nongol juga. Para penumpang berdesakan masuk. Didalam bus aku celingukan, loh kok aneh ya? Tempat duduknya saling berhadapan. Gak kayak bus kota yang biasanya aku tumpangin, bangkunya rapat banget sehingga pas banyak penumpang susah turun. Hmmm aku nikmati aja deh. Sungguh menakjubkan. Biar-pun aku gak kebagihan tempat duduk, tapi tenang, aku kuat berdiri kok. hehehe. Seeerrrrr tarikanya halus, supirnya pinter nih.

“Pemberhentian selanjutnya Pejaten, periksa barang bawaan anda dan hati-hati melangkah. The next stop, Pejaten shelter check your blonging and step carefully. Thank you”.
Loh loh suara siapa tuh yang omong? Kayaknya dari arah depan. Supirnya kali yaa?
Bukan, supirnya cowok. Tadi kan suara cewek. Aku tak menghiraukanya lagi. Dan beberapa saat kemudian berkali-kali aku dengar lagi suara yang hampir sama seperti tadi. Ooo ternyata itu suara pemberitahuan otomatis. Waaahhh canggih juga ya? Di Bandung kagak ada kayak ginian.
“Eh eh ki itu tuh gedung KPK, ooo disini toh rupanya tempat pemberantasan para gayus gayus” Celoteh Agus.
“Aaahh ente mah kampungan Gus, baru liat gitu doang heran. Dasar”. Ejekku.
“Yeee,,, ini mah bukan lagi dari tipi Ki. Asli liat pake mata Ki. Kapan lagi coba bisa liat langsung”. Bantah Agus.
Ku lirik Habib dan istrinya tampak cengar-cengir. Mungkin geli liat tingkah kami berdua. Maklum wong ndeso. Hihihiiii... gumamku dalam hati.
“Muki, Agus kita transit di dukuh atas”. Kata Habib.
Kami pun mengikuti nya. Sambil berjalan diotakku masih terngiang-ngiang kata-kata “transit”. Apa ya maksudnya? wahahaha bego banget sih Muki.
Sementara para penumpang berjejalan di pintu halte menunggu kedatangan bus  tiba tiba mataku tertuju pada aksi salah seorang penumpang Busway. Seorang cewek di ajak ngobrol seseorang dan temanya mengambil handphonenya dari saku celana belakang dengan berpura-pura mengambil sesuatu yang jatuh. Waktu aku hampir memberi tahu cewek itu tiba-tiba Habib menarik tas ku mendorongku ke dalam busway yang barusan datang.
###
“Waaaahh itu dia Istiqlal di depan mata kita, Gus”. Seruku pada si Agus.
“Iya Ki, Istiqlal i’m coming”. Tambah Agus.
Kami berlarian memasuki gerbang Istiqlal yang begitu luas. Tak lupa juga berfoto-foto ria walau hari sudah petang. Kemudian terdengar merdunya adzan membangkitkan semangat kaum muslimin untuk menghadap Tuhanya. Kami memasuki masjid dan berwudlu kemudian ikut solat berjamaah. Dilanjutkan dzikir dan membaca beberapa ayat Al-Qur’an. Aku bersandar di salah satu tiang Istiqlal yang besar itu. Mataku tertuju pada sesuatu di depanku agak jauh. Mirip sebuah handphone. Ku pandangi sesuatu itu lama. Ku yakinkan apa yang ku lihat, dan akhirnya aku melangkah menghampirinya. Ya, gak salah lagi itu adalah sebuah handphone. Mungkin milik salah satu jamaah di masjid ini. Awalnya aku bermaksud mengambil handphone ini. Handphone yang lumayan bagus. Tapi, aah gak mau. Sesuatu yang gak barokah. Mana sikap kejujuranku sebagai pemuda muslim. Baiklah, akhirnya aku menyerahkan hp itu ke seorang petugas berseragam hijau di masjid. Ku awasi terus petugas tersebut. Ia menaruh hp itu di sakunya. Kenapa tidak langsung di bawa ke pusat informasi aja ya untuk di umumkan barang kali pemiliknya mencari cari.
Pikiranku melanglang yang enggak-enggak. Mendingan hp tadi ga usah ku kasih ke petugas itu. Buat aku sendiri malah enak. Lagian setelah aku serahkan ke petugas juga malah di sakuin. Huuuffft.
Setelah berkeliling masjid sama Agus, kami menghampiri Habib dan istrinya di depan pintu keluar. Dan saatnya menuju Monas. Hasseeeeekkkk
Ini lho Monas yang selama ini orang-orang pada mengunjunginya. Dan kali ini aku pun mendatanginya. Sebuah monumen yang di bangun tingginya kurang lebih seratus tiga puluh lima meteran ini pucuknya berupa emas murni yang ketika malam hari tampak bercahaya di atas sana. Sungguh indah, apa lagi malam bulan purnama seperti ini jika kita berada di sebelah baratnya maka akan tampak sang rembulan di sangga pucuk emas Monas. Wuuuiiihhh,,, kereeennn. Suasana yang romantis memang cocok bagi para muda- mudi yang sedang asyik berlalu lalang disana sini. Ada yang berjalan, bersepeda, jogging, ada pula yang main futsal, basket, bermain sama anak-anak di halaman dan taman monas yang sangat luas itu. Waaahhh,, seru banget memang. Kita makan-makan di atas rerumputan taman monas sambil ngopi. Bola mataku berjelajah ke seluruh sudut sekitar Monas. Aku tertarik pada tempat air mancur yang di ceritakan istri Habib begitu menggebunya. Saking  penasarannya aku bertekad sama Agus melihat kolam yang ada air mancur tersebut dengan menyusuri tempat  gelap diantara pepohonan rindang. Iseng-iseng aja lewat tempat gelap. Mau uji nyali. Ternyata tak seperti yang ku duga, aku mengira disana tak ada seorang pun. Bahkan tak kalah ramainya di tempat–tempat terang.  Mataku agak kabur setiap berada dalam kegelapan. Aku pun terpaksa melebarkan mataku untuk terus berjalan. Aku minta si Agus untuk menuntunku ke bawah sebuah pohon untuk berhenti sebentar sekedar menetralkan mata. Tak satu pun pohon yang tak ada orang dibawahnya. Biar pun mataku kabur tapi aku masih mampu melihat dalam remang-remang. Setiap pohon menjadi tempat perlindungan bagi para pasangan muda-mudi yang sedang bermesraan. Berangkulan, pelukan, pangku-pangkuan dan sejenisnya. Kenapa musti di tempat gelap ya? Takut ketauan sama emaknya kali kalo lagi pacaran? Atau biar bisa melakukan hal yang lebih? Nah mending di hotel dong? Yaa mungkin kagak punya duit kali, jadi dimana aja yang penting enjoy. Hahaha.  Agus mengajakku duduk di sebuah tikar yang telah di gelar. Kami duduk disana beberapa saat. Selang beberapa menit dari belakang ada tangan meraba punggungku. Ah paling juga agus, aku biarkan saja tangan itu. Lama-lama rabaan itu semakin membuat berdiri bulu romaku.
“ Apa apaan sih Gus?”.
“ Kamu yang apa apaan, gatel banget ente. Pengen ya sama mereka?”.
“Iiihh,, najis dah kalo sama ente. Gue normal, gak gay”.
Tiba-tiba “ mari Bang, sekali main seratus ribu doang sampai puas”
“Huwaaaaaaaaaaaa.” Jeritku sama Agus.
Kami berlari tanpa arah. Melangkahkan kaki melalui insting. Tanpa sengaja kami tersandung seperti badan manusia bertumpuk atas dan bawah. Dan kami put terperosot dalam tanah cekung. Kemudian ada yang mengumpat “woey jalan pake mata dong! Ganggu orang lagi hepi aja!”
“Ma ma ma maaf Bang, kami ga sengaja.” Pintaku sama Agus.


Segera kami beranjak dan berjalan lagi dengan lebih hati-hati. Kami bingung harus melangkah kemana, kanan / kiri / depan atau belakang sedangkan tiap penjuru terdengar suara aneh, desah-desah kesakitan, nafas-nafas mesum menggema di bawah rimbun pepohonan dan kegelapan.  Bulu kudukku merinding, tegang rasanya, tergoda hawa yang menggiurkan. Oh Tuhan, kuatkan kami. Kami terus melangkahkan kaki, Akhirnya sedikit lagi kita akan sampai tempat terang juga. Di akhir tempat itu aku sama agus tercengang, diam tanpa kata, saling berpandangan. Rasanya bibir sampai kelu untuk berkata, sendi pun seakan lumpuh, nafas tersengal-sengal. Menyaksikan adegan cewek sama cowok buka celana. Tampak sangat jelas di mata kami, apa yang akan mereka lakukan.
“Lariiii...!!” Kami terengah-engah berlari, mencari tempat aman untuk menormalkan nafas. Astaghfirullah .. astaghfirullah.... kami tak henti-hentinya menyebut nama Tuhan.  Habib dan istrinya menghampiri kami dan ngakak sambil berkata “Siapa suruh keluyuran sampe situ?”
~###~

Kamis, 27 Oktober 2011

Rindu Rindu

Aku rindu ...
Pertemuan rahasia kita
Yang dulu hampir setiap malam
Aku rela terjaga
Meski hanya singkat
Terhitung dalam bilangan raka'at

Aku rindu ...
Malam malam bersama Mu
Mereguk manisnya bercakap
Merengkuh hangatnya berharap
Bersatu padu dalam untaian doa

Rindu...
Rindu ...
Rindu...


Sabtu, 08 Oktober 2011

Teruntuk yang tersakiti


Peri kecil peri kecil malam
Terbanglah
Datanglah
Temani mereka
Wanita yang tersakiti
Dalam melewati keseunyian
Nyanyikanlah untuknya sebuah dendang
Agar mereka tertidur lelap
Walau hanya skejap
Kemudian biarkan mereka
Terbuai dalam sujud panjang
Hingga esok datang
Memberi secercah bahagia
Bersamamu ku titipkan sebuah doa
Semoga Tuhan melimpahkan rahmatnya
Menjanjikan surga bagi mereka

Jumat, 29 April 2011

sendu sore

شكوت لقائك لاتصو بالبيان
لو لا برودة البحر لطرت إليك
يا ريح الروضة....
بلغ سلامي لعزيزي
قل له اني مشتاقة اليه